Featured

0 Ahmad Soebardjo Djojodisoerjo Anggota Badan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia


Pejuang kemerdekaan Indonesia, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia yang pertama (1945). Guru besar dalam sejarah konstitusi dan diplomasi RI.

Soebardjo lahir di Krawang, Jawa Barat 23 Maret 1896. Gelar Meester in de Rechten diraihnya di Universitas Leiden, Belanda (1933). Semasa berkuliah ia giat dalam Perhimpunan Indonesia, dan mengunjungi berbagai kongres internasional, seperti Kongres Liga Anti Imperialis di Brussels, Kaln, dan Frankfurt.

Sewaktu di Moskow merayakan 10 tahun berdirinya Uni Soviet, ia menjadi anggota delegasi pelajar Indonesia atas undangan pemerintah negeri itu (1927). Kegiatannya dalam bidang jurnalistik berawal di negeri Belanda. Ia menjadi pemimpin redaksi majalah Rech en Vrijheid dan Indonesia Merdeka yang merupakan corong Perhimpunan Indonesia.

Sekembalinya di Indonesia, ia membuka kantor pengacara di Semarang (1934) sambil terus giat dalam lapangan jurnalistik. Ia membantu majalah Nationale Commentaren pimpinan Dr. Sam Ratulangie, di samping memimpin majalah Kritiek en Opbouw yang didirikannya bersama Dr. Coets dan D.M.G. Koch.

Semasa pendudukan Jepang ia menjadi pembantu kantor penasihat Angkatan Darat Jepang dan kepala Biro Riset Angkatan Laut Jepang pimpinan Laksamana Maeda. Menjelang proklamasi kemerdekaan, ia duduk dalam keanggotaan Badan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Bersama Mr. Dr. Supomo dan Mr. A.A. Maramis ia merancang Undang-undang Dasar negara Indonesia. Ia pun dikenal sebagai salah seorang penanda tangan Piagam Jakarta. Setelah Indonesia merdeka, ia diangkat sebagai Menteri Luar Negeri RI dalam Kabinet Presidensial (1945).

Sebagai Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Sukiman-Suwirjo ia menandatangani Perjanjian Keamanan (Mutual Security Act) dengan pemerintah Amerika (1951). Perjanjian ini mengakibatkan jatuhnya kabinet. Ia mengetuai delegasi Indonesia dalam Konferensi Perdamaian dengan Jepang yang diadakan di San Fransisco (1951). Pada kesempatan itu PM Jepang Yoshida meminta maaf kepada bangsa Indonesia atas kekejaman pasukan pendudukan Jepang terhadap bangsa Indonesia selama peperangan.

Mr. Soebardjo pernah memegang beberapa jabatan non pemerintahan, antara lain ketua presiden Lembaga Indonesia dan wakil ketua Federasi Perhimpunan PBB., ia memberi kuliah di berbagai universitas, antara lain di Universitas Indonesia. Ia mengasuh mata kuliah Sejarah Pergerakan serta Pancasila. Wafat tanggal 15 Desember 1978, dimakamkan di Cipayung, Bogor.

Sumber : www.jakarta.go.id
Read more

0 Perjuangan Teuku Cik Ditiro di Aceh

Photo : google.com.
Pahlawan nasional, bernama asli Muhammad Saman, lahir pada tahun 1836 di Cumbok Lamlo, daerah Tiro, Pidie. Teungku Muhammad Saman adalah putra dari Teungku Syekh Ubaidillah. Sedangkan ibunya bernama Siti Aisyah, putri Teungku Syekh Abdussalam Muda Tiro. Ia dibesarkan dalam lingkungan agama yang kuat.


Ketika ia menunaikan ibadah haji di Mekkah, ia memperdalam lagi ilmu agamanya. Selain itu tidak lupa ia menjumpai pimpinan-pimpinan Islam yang ada di sana, sehingga ia mulai tahu tentang perjuangan para pemimpin tersebut dalam berjuang melawan imperialisme dan kolonialisme.

Sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya, Muhammad Saman sanggup berkorban apa saja baik harta benda, kedudukan, maupun nyawanya demi tegaknya agama dan bangsa. Keyakinan ini dibuktikan dengan kehidupan nyata, yang kemudian lebih dikenal dengan Perang Sabil.

Sejak kecil ia sudah biasa hidup di lingkungan pesantren dan bergaul dengan para santri. Setelah belajar ilmu agama pada beberapa ulama terkenal di Aceh, ia menunaikan ibadah Haji dan memperdalam ilmu agama di Mekah. Sesudah itu ia menjadi guru agama di Tiro.

Dibesarkan pada saat memburuknya hubungan Aceh dengan Belanda. Pada tahun 1873 Kompeni mulai memerangi Aceh untuk menaklukkan kerajaan tersebut dan menempatkannya di bawah kekuasaan Belanda, pasukan pertama berhasil dipukul mundur. Panglimanya, Mayor Jenderal JHR Kohler, tewas dalam pertempuran. Sesudah itu, Kompeni mengirimkan pasukan yang lebih besar dan kuat. Lama-kelamaan pejuang Aceh terdesak.

Daerah Aceh Besar jatuh ke tangan Kompeni dan kekuatan Aceh mulai lemah. Pada waktu itu, ia muncul memimpin perang dan membentuk Angkatan Perang Sabil dengan mendapat bantuan golongan hulubalang. Sultan Aceh mempercayainya sebagai pemimpin perang, dan perjuangan dilakukan atas dasar agama dan kebangsaan.

Dalam serangan yang dilancarkan bulan Mei 1881, benteng Belanda di Indrapuri berhasil direbut pasukannya. Kemudian jatuh pula benteng Lambaro, Ancuk Galang, dan lain-lain. Belanda semakin terdesak, mereka bertahan saja dalam benteng di Banda Aceh. Tetapi, ke dalam benteng itu pun, ia mengerahkan pasukan untuk melakukan sabotase.

Pulau Breuh pun mendapat serangan, dari situ ia bermaksud merebut Banda Aceh. Kompeni jadi kewalahan dan daerah Aceh yang masih mereka kuasai tidak lebih dari empat kilometer persegi.

Belanda menyadari bahwa sumber semangat Aceh pada waktu itu ialah Teungku Cik Di Tiro, karena itu Kompeni bermaksud membunuhnya. Mereka berhasil membujuk seseorang yang bersedia bekerja sama yang diangkat menjadi Kepala Sagi. Kemudian,orang itu menyuruh seorang wanita memasukkan racun ke dalam makanan dan diberikannya kepada Cik di Tiro.

Akibatnya Cik di Tiro jatuh sakit dan meninggal dunia di benteng Ancuk Galang pada bulan Januari 1891. Di Jakarta namanya diabadikan sebagai nama jalan yang terletak di kawasan Menteng, menggantikan nama Jl. Mampangweg.

Sumber : www.jakarta.go.id, wikipedia

Read more

0 Agus Salim Cendikiawan Muslim Tokoh Diplomasi Dalam Usaha Mencapai Kemerdekaan Indonesia

Photo : www.jakarta.go.id.
Cendikiawan dan pemimpin Islam yang berpengaruh. Lahir di Kota Gadang (Sumatera Barat), 8 Oktober 1884. Ia seorang poliglot yang menguasai bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Arab, Jepang, dan Turki.

Dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Presiden RI Sesudah tamat HBS (Hoogere Burger Schoof) memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sendiri secara otodidak.

Bekerja pada Konsulat Belanda di Jeddah (1906-1911), sambil memperdalam pengetahuannya tentang Islam dan seluk beluk diplomasi internasional.

Duduk sebagai anggota pimpinan Sarekat Islam; juga anggota Volksraad. Karena terdapat pertentangan faham dalam pimpinan PSII, membuat Barisan Penyadar PSII (November 1936) yang kemudian menjelma menjadi Partai Penyadar yang dipimpin oleh H.

Agus Salim-Sangaji. Aktif dalam Pan Islam, karena cita-citanya ingin mempersatukan umat Islam seluruh dunia. 1931, ikut serta sebagai penasihat teknis delegasi Verbond van Vakvereenigingen (NVV) dalam Konferensi Perburuhan Intemasional di Jenewa.

Sejak Proklamasi 17 Agustus 1945, Haji Agus Salim ikut aktif khususnya dalam bidang diplomasi. Juni 1946 - Juli 1947, menjabat sebagai Menteri Muda Luar Negeri; (Juli 1947-Desember 1949), sebagai Menteri Luar Negeri; memimpin delegasi RI ke Inter-Asian Relation Conference di New Delhi (India, 1947), dan wakil RI di UNO.

Mengunjungi negara-negara Arab, untuk mendapatkan pengakuan dengan cara menyebarkan cita-cita revolusi Indonesia, sehingga Mesir mengakui RI (10 Juni 1947).

Agus Salim, M. Natsir dan lain-lain berkeliling dari Negara-ke Negara untuk mendapatkan dukungan dan pengakuan dunia.

Saat Delegasi resmi RI yang dipimpin oleh Agus Salim yang pada waktu itu menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri mengunjungi Mesir untuk mendapatkan pengakuan dunia sejak proklamasi Kemerdekaan.

Kunjungan ini menghasilkan perjanjian persahabatan RI dan Mesir (Juni, 1947). Tanggal 10 Juni 1947, Agus Salim berhasil mendapatkan dukungan Mesir untuk menjalin kekerabatan intim dengan Indonesia.

Dukungan ini cukup heroik dan penuh perjuangan. Pemerintah Mesir mengirim langsung konsul Jenderalnya di Bombay yang bernama Mohammad Abdul Mun’im ke Ibu Kota Negara, Yogyakarta, dengan menembus blokade Belanda untuk menyampaikan dokumen resmi pengakuan Mesir kepada Negara Republik Indonesia. Syukur perjalanan Mohammad Abdul Mun’im ke Yogyakarta yang penuh resiko ini berhasil sampai tujuan. Surat Resmi dari Pemerintah Mesir sampai ke tangan Presiden Soekarno.

Tidak hanya pemerintahannya saja, Rakyat Mesir pun bersimpati dengan perjuangan RI. Simpati ini berupa sebuah resolusi dari hasil rapat umum partai-partai politik dan organisasi massa pada 30 Juli 1947 Mesir. Dalam rapat tersebut juga dihadiri oleh Presiden Tunisia, Habib Burguiba, Kepala Negara Maroko, Allal A Fassi. Isi hasil rapat umum rakyat Mesir tersebut yaitu: (1). Pemboikotan barang-barang buatan Belanda di seluruh negara-negara Arab; (2). Pemutusan hub diplomatik antara negara-negara Arab dan Belanda. (3). Penutupan pelabuhan-pelabuhan dan lapangan-lapangan terbang di wilayah Arab terhadap kapal-kapal dan pesawat-pesawat Belanda (secara konkret poin ini dilaksanakan di Terusan Suez); (3). Pembentukan tim-tim kesehatan untuk menolong korban-korban agresi Belanda. Rakyat Mesir juga mengirimkan misi Bulan Sabit Merah ke Indonesia lengkap dengan obat, alat kesehatan dan tim dokter.

Tanggal 19 Desember 1948, sewaktu Yogyakarta diserbu oleh Belanda, ia ikut ditangkap bersama dengan Presiden Soekarno dan lain-lain, dan diasingkan ke Berastagi, kemudian Prapat dan Bangka. Setelah pengakuan kedaulatan (akhir 1949), ia aktif dalam bidang pendidikan, walaupun masih juga menjalankan tugas sebagai penasihat Pemerintah RI.

Pada tahun 1953, memberikan kuliah pada Cornell University, AS, tentang agama Islam dan pergerakan nasional di Indonesia; 1954, menerima jabatan guru besar Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri di Yogya, tapi wafat sebelum mulai memberikan kuliah perdananya.

Agus Salim wafat di Jakarta, 4 November 1954 dimakamkan di TMP Kalibata. Untuk mengabadikan namanya, jalan dimana ia tinggal di Jakarta, diberi nama Jl. H. Agus Salim yang terletak di kawasan Menteng, Jakarta Selatan.

Sumber : www.jakarta.go.id

Read more

0 Sejarah Kampung Tanah Abang

Photo : google.com.
Nama Tanah Abang mulai dikenal ketika seorang kapten Cina bernama Phoa Bhingam kepada Pemerintahan Belanda untuk membuat sebuah terusan pada tahun 1648. Penggalian terusan ini kearah selatan sampai dekat hutan. Kemudian dipecah menjadi dua bagian, yaitu daerah timur sampai di kali Ciliwung dan ke arah barat sampai kali Krukut. Terusan ini bernama Molenvliet, berfungsi sebagai sarana transportasi untuk mengangkut hasil bumi dengan mempergunakan perahu ke arah selatan sampai dekat hutan. Dengan adanya terusan tersebut dapat memperlancar hubungan dan perkembangan daerah kota ke selatan.

Bahkan hingga dewasa ini jalan-jalan yang berada di sebelah kiri dan kanan terusan itu merupakan urat nadi yang menghubungkan jalan Lapangan Banteng, Merdeka, Tanah Abang dan Jakarta Kota.

Daerah selatan kemudian muncul menjadi daerah perkebunan yang diusahakan oleh tuan tanah orang Belanda dan Cina. Phoa Bhingam sendiri memiliki perkebunan tebu beserta dengan tempat penggilingannya yang berada di daerah Tanah Abang. Selain itu juga para tuan tanah Belanda memiliki beberapa daerah perkebunan, antara lain kebun kacang. Sebab minyak kacang merupakan bahan komoditi yang laris. Disamping itu mengusahakan kebun jahe, kebun melati, kebun sirih, dan lainnya yang kemudian masih berbekas dan menjadi nama wilayah seperti sekarang masih dipakai orang. Karenamelimpahnya hasil-hasil perkebunan di daerah tersebut, timbullah suatu gagasan dari Justinus Vinck untuk mengajukan permohonan mendirikan sebuah pasar atas tanah miliknya di daerah Tanah Abang dan daerah Senen. Setelah mendapat izin dari Pemerintah Belanda melalui Gubernur Jenderal Abraham Petrus, pada tanggal 30 Agustus 1735 Justinus Vinck membangun dua buah pasar, yaitu Pasar Tanah Abang dan Pasar Senen (Weltevreden). Peranan kali Krukut yang berada di dekat Pasar Tanah Abang menjadi penting dan ramai dikunjungi oleh perahu-perahu yang memuat barang-barang yang akan dijual ke Pasar Tanah Abang.

Sebelum penulis menguraikan lebih lanjut mengenai daerah Tanah Abang, terlebih dahulu akan menjelaskan asal-usul nama dari Tanah Abang. Mengenai nama asal dari Tanah Abang sejarahnya masih diragukan. Namun ada dua pendapat mengenai nama tersebut yang penulis catat, yaitu pada waktu pasukan Mataram menyerang kota Batavia pada tahun 1628, mereka mengadakan serangan kearah kota melalui daerah selatan yaitu Tanah Abang. Mereka mempergunakan tempat tersebut sebagai pangkalan, karena tempat tersebut merupakan tanah bukit,sedang disekitarnya terdapat daerah rawa-rawa dan kali Krukut. Karena tanahnya merah, maka mereka menyebutkan tanah abang dari bahasa Jawa yang artinya merah. Selain itu adapula yang mengartikan nama Tanah Abang dari kata "abang dan adik" yaitu dua orang bersaudara kakak dan adik. Karena adiknya tidak mempunyai rumah, maka ia minta kepada abangnya untuk mendirikan rumah. Tanah yang ditempati disebut Tanah Abang. Menjelang akhir abad 18 keadaan di daerah Tanah Abang mengalami perubahan. Muncul beberapa rumah mewah yang dibangun oleh orang-orang Belanda dan Cina. Di sekitar rumah mereka terdapat rumah-rumah penduduk yang bangunannya masih sederhana. Sebagian besar dari mereka bekerja di rumah-rumah orang Belanda dan Cina sebagai pembantu, tukang kebun dan penjaga malam.

Seorang tuan tanah Cina yang kaya bernama Tan Hu Teng membeli tanah milik pribumi bernama Bapak Gepeng untuk dibangun sebagai tempat peristirahatannya. Karena Bapak Gepeng dikenal sebagai jagoan Tanah Abang, maka Tan Hu Teng mengangkat dia sebagai penjaga rumahnya. Di belakang rumah Tan Hu Teng terbentang sebuah kebun yang letaknya agak menjorok ke dalam, maka tempat tersebut dinamakan Kebun Dalam. Di sebelah selatan kebun, tanahnya agak rendah dan letaknya berdekatan dengan kali Krukut. Oleh karena itu tempat itu disebut Tanah Rendah.

Peranan kali Krukut pada waktu itu berlipat ganda dan sangat besar manfaatnya bagi penduduk di sekitarnya. Selain berfungsi sebagai sarana transportasi dan rekreasi, juga dipergunakan untuk keperluan sehari-hari penduduk, yaitu untuk mandi, cuci, kakus (MCK). Untuk menjaga kebersihan dan mencegah banjir, Pemerintah Belanda telah membuat pintu air pada tahun 1917.

Di seberang kali tersebut terdapat tempat pemberhentian atau pangkalan sado dan delman. Sambil beristirahat para kusir member makan kudanya di suatu tempat/alat untuk kuda yang disebut kombongan. Kombongan yaitu alat (wadah) yang bentuknya bulat terbuat dari batu dan semen, gunanya untuk tempat makanan ternak. Sekarang kombongan-kombongan tersebut tidak kita jumpai lagi di tempat ini; yang ada hanya nama sebuah daerah yaitu Kombongan. Tidak jauh dari pangkalan-pangkalan sado dan delman, terbentang perkebunan pohon jati yang luas. Penduduk di sekitarnya menyebut daerah itu ialah Jatibaru.

Adapun nama Kampung Bali disebut demikian karena dahulunya banyak orang-orang Bali yang tinggal di sana. Pada waktu itu Pemerintah Belanda memberikan pangkat kapten kepada kepala kelompok suku-suku bangsa yang ada di Batavia. Masing-masing mendiami perkampungan khusus, sehingga kita mengenal adanya nama Kampung Bali, Kampung Bugis, Kampung Melayu, Kampung Ambon, Kampung Cina, dan lain-lain. Adapun pengaruh dari Suku Bali di Batavia cukup banyak, diantaranya pengaruh terhadap bahasa Betawi (Jakarta). Sampai sekarang masih kita pergunakan sehari-hari, misalnya kata jihad, bianglala, lantas, menyungkun, iseng, ngebet dan lain-lain. Bahkan akhiran “in” misalnya "nungguin dan pegangin" adalah pengaruh bahasa Bali.

Menjelang akhir abad 19 banyak orang Arab menghuni wilayah Tanah Abang dan sekitarnya. Pada tahun 1920 jumlah orang Arab yang tinggal di daerah Tanah Abang kira-kira sebanyak 13.000 orang. Adapun kesukaan mereka ialah makan daging kambing. Pasar Tanah Abangpun menjadi ramai melayani keperluan kambing. Kegiatan daerah Tanah Abang semakin meningkat dengan dibukanya beberapa buah tempat pemakaman, stasiun kereta api, masjid, dan sebuah wihara atau klenteng.

Di tengah-tengah kemelut api perlawanan terhadap Jepang, pada bulan Oktober 1945 tentara Sekutu dengan escort kapal-kapal perangnya merapat di pantai Jakarta. Bersama dengan kapal-kapal Sekutu datang pula kapal perang Belanda yang turut serta dengan mereka.

Pada tanggal 4 dan 5 Oktober 1945, Stasiun Tanjung Priok ditembaki oleh Tentara Belanda dan mereka kemudian mengatur persediaan alat-alat perang dengan dibantu oleh Sekutu. Keadaan di Jakarta semakin genting, karena Belanda melebarkan sayapnya mengadakan pertempuran di beberapa tempat, antara lain Senen, Kramat, Sawah Besar, Pintu Air, Harmoni, Petojo, Gambir, Petamburan, dan Tanah Abang.

Pertempuran antara pasukan Belanda dengan penduduk daerah Tanah Abang dan Jati Petamburan terjadi di Kampung Karet dekat kuburan. Belanda hendak mencoba menduduki kantor cabang polisi dengan maksud memutuskan hubungan dengan daerah-daerah lain. Walaupun pasukan Belanda memiliki persenjataan yang lengkap, namun penduduk yang didukung oleh para pemuda tidak gentar menghadapi mereka. Hanya dengan modal keberanian, akhirnya Belanda dapat diusir dari daerah Karet dan mengundurkan diri ke daerah Jembatan Tinggi Jati Petamburan. Di sana pasukan Belanda dipecah menjadi dua bagian, yaitu sebagian menuju daerah Tanah Abang dan sebagian lagi menuju daerah Jati Baru. Tetapi setiba di Gang Thomas, mereka diserang oleh penduduk dan banyak yang tewas serta senjatanya dapat dirampas.

Pada tanggal 20 Nopember 1945 berkobar kembali pertempuran di daerah Jati Petamburan, Karet, dan Jati Baru. Pada waktu itu kira-kira pukul 4.30 pagi, tentara Belanda mengadakan pemeriksaan dan penggeledahan terhadap setiap penduduk yang lewat Jembatan Tinggi. Pada waktu mereka menggeledah, para pemuda pejuang tidak memberikan perlawanan. Setelah agak jauh dari tempat tersebut, mereka melemparkan granat dan tembakan ke arah Jembatan Tinggi, sehingga suasana menjadi rusuh. Para pemuda dari Tanah Abang, Kampung Bali, dan Jati Petamburan bergabung menjadi satu menyerang konvoi mobil Belanda yang sedang patroli. Di kedua belah pihak banyak yang tewas. Namun demikian bagi para pemuda peristiwa itu merupakan cambuk untuk membakar semangat mereka. Belandapun tidak tetap diam untuk menghadapi mereka, lalu disewanya mata-mata untuk mengawasi gerak-gerik para pemuda dan penduduk.

Bapak Misnan dari daerah Kampung Bali menyamar sebagai tukang cuci mobil di markas Sekutu 'Royal Air Forces' (RAF) yang bertempat di rumah bekas tuan tanah di daerah Tanah Abang Bukit. Karena mendapat kepercayaan dari mereka, maka Bapak Misnan berhasil mencuri dokumen nama orang-orang yang akan ditangkap dan beberapa pucuk senjata. Segera ia hubungi orang-orang yang ada dalam dokumen tersebut dan menyuruhnya segera meninggalkan rumah. Berkat usahanya maka mereka berhasil diselamatkan. Penjagaan markas Sekutu semakin diperketat. Setiap orang yang lewat tempat tersebut diperiksa dan digeledah, menyebabkan bencinya penduduk terhadap Sekutu semakin menjadi.

Pada suatu malam para pemuda dari Kampung Bali dan Kebon Dalem sudah bersiap-siap akan menyerang markas tersebut, tetapi untunglah datang seorang sesepuh kampung yang menasehati mereka supaya jangan melakukan tindakan tersebut, karena sangat berbahaya dan mengancam jiwa penduduk yang ada di sana.

Polisi militer Belanda tidak berani lagi mengadakan patroli di daerah Kampung Bali, karena di sana bersarangnya komplotan pemuda pemenggal kepala yang dipimpin oteh Bapak Ramdani. Hampir setiap malam terjadi pembunuhan terhadap tentara Belanda dan mata-matanya. Mereka dikubur di Jalan Kampung Bati Gang V.

Bapak Misnan beserta kawan-kawannya bersatu dengan tentara Sekutu India Muslim mengadakan serangan ke markas Belanda yang berada di Jalan Taman Kebon Sirih dan berhasil merampas 4 pucuk senjata LE dan 20 buah granat tangan. Kemudian Bapak Misnan melarikan diri ke daerah Cikampek karena jiwanya terancam. Beliau menggabungkan diri dengan pasukan Tentara Keamanan Rakyat dan diberi tugas untuk mencegah tentara Belanda yang akan pergi ke Bandung.

Di daerah Jati Petamburan, Pal Merah, dan Slipi, keamanan wilayah dipegang oleh Barisan Pelopor dan Barisan Keamanan Rakyat yang dipimpin oleh Bapak Muntaco dan Achmad Dera. Markas mereka terletak di Jalan Jati Petamburan No. 4. Di gedung ini sering diadakan pertemuan para tokoh pejuang dan rapat rahasia untuk mengatur siasat dalam menghadapi Belanda. Disini pula diadakan Pengadilan Tinggi Barisan Keamanan Rakyat, tempat tentara Belanda yang ditangkap dihukum mati dan dikubur di halaman gedung tersebut.

Pada masa lampau orang Betawi asal Tanah Abang mata pencariannya ialah pedagang keliling, berjualan buah-buahan, baju, dan kue. Adapula mereka yang bekerja pada percetakan orang Belanda 'Garda Internatio'. Disamping itu ada juga yang menjadi tukang sado (delman) dan pencarian lainnya yaitu menderap padi. Jika mereka akan berangkat, terlebih dahulu berkumpul di dekat pohon besar yaitu pohon rengas. Mereka menyewa perahu kepada kumpi atau buyut yang dikenal dengan nama Haji Duit.

Dengan melalui kali Banjir Kanal (Kali Malang) mereka pergi menderap di Bekasi, Kebayoran Lama, Slipi, dan Srengseng. Hasil dari menderap mendapatkan bawon (ikat padi). Cara mendapatkannya yaitu setiap 5 ikat padi mendapatkan bawon 1 ikat. Pada umumnya bawon itu lebih besar dari ikatan biasanya. Sifat mata pencarian itu musiman, hanya pada waktu panen padi. Mereka juga menjual air yang berasal dari sumur bor milik Haji Romli, dijual ke kota, ke perusahaan kecap, toko-toko dan rumah-rumah penduduk dengan harga Rp 2,50 untuk 21 pikul. Ada pula yang berjualan kembang dan kambing.

Bagi pendatang dari Bima dan orang-orang Bali yang diasingkan mengusahakan kacang dan jahe. Sedangkan orang-orang yang datang dengan perahu dari pasar ikan membawa ikan dan mangga Indramayu. Sepulangnya dari Tanah Abang membawa rumput untuk makan kuda.

Akan tetapi mata pencarian semacam itu tidak dapat bertahan, karena perkembangan penduduk yang sangat pesat, terutama setelah urbanisasi dari daerah-daerah lain di Indonesia berdatangan ke Jakarta. Kampung Tanah Abang tidak luput menjadi sasaran para pendatang yang ingin mengadu nasib di Tanah Abang. Mata pencarian mereka sekarang beralih menjadi pedagang, buruh, pegawai negeri maupun swasta, dan lain sebagainya.

Usaha lain di samping dagang, penduduk Tanah Abang Kampung Bali membuat kerajinan tangan, seperti tas dan sepatu. Usaha mereka boleh dikatakan tumbuh dengan baik. Kesulitan para pengrajin itu ialah tempat yang tidak memenuhi syarat.


Referensi : Kampung Tua di Jakarta, Dinas Museum dan Sejarah, 1993.

Sumber : diskominfomas
Read more

0 Penjualan Manusia Untuk Bisnis Sex di Ohio, Amerika Serikat


Tiap tahun, sekitar 1.000 anak kelahiran Amerika dipaksa menjadi pekerja seks komersil di negara bagian Ohio, Amerika Serikat (AS). Selain itu, sekitar 800 imigran dieksploitasi secara seksual dan dipaksa melakukan pekerjaan berat dengan bayaran minim.

Data itu terungkap dalam laporan Komisi Studi Perdagangan Manusia (Trafficking in Persons Study Commission) di AS, Rabu 10 Februari 2010.

Menurut laporan itu, lemahnya hukum di Ohio mengenai perdagangan manusia, peningkatan permintaan terhadap tenaga kerja murah, dan kedekatan wilayah dengan perbatasan Kanada adalah faktor-faktor utama sehingga bermunculan aktivitas-aktivitas ilegal tersebut.

"Ohio tidak hanya menjadi tempat tujuan korban-korban perdagangan manusia kelahiran luar AS, tetapi juga menjadi tempat rekrutmen," kata Celia Williamson, profesor dari University of Toledo yang memimpin penelitian.

Dibentuk tahun lalu oleh Jaksa Richard Condray di Ohio, komisi juga menemukan bahwa lebih dari ratusan anak di Ohio berisiko dipaksa menjadi pekerja seks atau bekerja di sektor yang tidak mereka inginkan, seperti di restoran atau proyek bangunan.

Di AS, menurut Departemen Luar Negeri AS, antara 45.000 hingga 50.000 orang dijual ke AS. Dari tahun 1999 hingga 2000, populasi penduduk kelahiran luar AS meningkat 30 persen. Jaringan imigran ilegal dan legal berkembang di Ohio dan biasanya sangat terorganisir. (Associated Press)
Read more
 
© Suara Indonesia | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger